JAKARTA - PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET) resmi melaksanakan aksi korporasi berupa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue. Aksi ini bertujuan untuk memperkuat pondasi bisnis dan mendukung rencana ekspansi di sektor telekomunikasi serta infrastruktur digital.
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menetapkan harga teoretis saham INET sebagai pedoman transaksi di pasar reguler dan negosiasi. Kebijakan ini juga digunakan sebagai acuan penghitungan Indeks Harga Saham Individual (IHSG) terkait saham INET.
Rasio Rights Issue dan Harga Teoretis Saham
Dikutip dari pengumuman resmi BEI pada Senin, 5 Januari 2026, rasio HMETD ditetapkan 3:4, artinya setiap pemegang tiga saham lama berhak membeli empat saham baru dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham.
Sebelum penyesuaian, harga saham INET pada akhir perdagangan cum-rights tanggal 2 Januari 2026 berada di level Rp770 per saham. Berdasarkan formula perhitungan harga teoretis, nilai saham setelah HMETD ditetapkan Rp472,85 dan disesuaikan dengan fraksi harga menjadi Rp472 untuk perdagangan di Pasar Reguler dan Negosiasi.
"Harga Teoretis saham INET yang dicantumkan di JATS untuk Pasar Reguler dan Pasar Negosiasi pada tanggal 5 Januari 2026 disesuaikan dengan fraksi harga menjadi Rp472," tulis pengumuman yang ditandatangani oleh Pande Made Kusuma Ari A. dan Bima Ruditya Surya dari BEI.
Pernyataan Efektif OJK dan Jumlah Saham Baru
HMETD INET telah memperoleh pernyataan efektif dari OJK pada 23 Desember 2025. Dalam prospektus ringkas, INET akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 12,8 miliar saham baru biasa dengan nilai nominal Rp10 per lembar.
Harga pelaksanaan HMETD ditetapkan Rp250 per saham, dan perusahaan menargetkan perolehan dana hingga Rp3,2 triliun. Bersamaan dengan rights issue, INET juga akan menerbitkan 3,2 miliar Waran Seri II, dengan 2,304 miliar waran menyertai saham baru dalam PM-HMETD I.
Waran Seri II ini diberikan secara cuma-cuma sebagai insentif bagi pemegang saham baru yang melaksanakan haknya. Bila seluruh waran dilaksanakan, dana tambahan dapat mencapai Rp691,2 miliar.
Standby Buyer dan Kepastian Dana Rights Issue
Pemegang saham pengendali INET, PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara (AKUN), menyatakan kesanggupannya sebagai pembeli siaga atau standby buyer. AKUN siap membeli sisa saham porsi publik yang tidak diambil, sebanyak 5,652 miliar saham.
Langkah ini memberikan kepastian bahwa pendanaan dari rights issue akan terpenuhi sepenuhnya, sekaligus menjaga stabilitas harga saham di pasar.
Alokasi Dana Rights Issue INET
Seluruh dana yang diperoleh dari PM-HMETD I akan digunakan untuk mendukung rencana ekspansi INET di sektor telekomunikasi dan infrastruktur digital.
Sekitar Rp2,8 triliun akan disalurkan melalui entitas anak PT Garuda Prima Internetindo (GPI) untuk pengembangan jaringan Fiber To The Home (FTTH) berkecepatan tinggi dengan teknologi Wi-Fi 7. Layanan ini akan menjangkau 2 juta pelanggan di wilayah strategis Pulau Bali dan Lombok.
Sementara itu, sekitar Rp215,38 miliar akan disuntikkan ke entitas anak PT Pusat Fiber Indonesia (PFI) untuk melunasi biaya Indefeasible Right of Use (IRU) jaringan kabel bawah laut (submarine cable) kepada PT JMP. Sisanya akan digunakan sebagai modal kerja untuk perseroan dan entitas anak.
Implikasi Rights Issue bagi Pemegang Saham Lama
Pemegang saham lama yang tidak melaksanakan haknya akan mengalami dilusi maksimum sebesar 57,14%. Hal ini merupakan konsekuensi dari penerbitan saham baru dalam jumlah besar untuk meningkatkan modal inti perusahaan.
Namun, manajemen INET menekankan bahwa langkah ini adalah strategi jangka panjang untuk memperkuat fondasi bisnis dan menyiapkan perusahaan menghadapi persaingan di sektor digital.
Sinyal Kuat Manajemen Memperkuat Pondasi Bisnis
Dengan adanya rights issue, penerbitan waran, dan peran AKUN sebagai standby buyer, manajemen INET memberikan sinyal positif kepada pasar. Perusahaan berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas jaringan, memperluas layanan pelanggan, dan meningkatkan nilai perusahaan secara berkelanjutan.
Dana segar dari rights issue ini diharapkan menjadi katalis pertumbuhan di sektor telekomunikasi dan infrastruktur digital, sekaligus mendukung ekspansi GPI dan PFI.
Rights issue INET yang dimulai pada Senin, 5 Januari 2026, menjadi salah satu langkah strategis perusahaan untuk memperkuat pondasi bisnis dan ekspansi layanan digital.
Dengan harga teoretis saham Rp472 per lembar, penerbitan saham baru, waran gratis, dan peran standby buyer, INET menunjukkan keseriusan manajemen dalam merencanakan pertumbuhan jangka panjang.
Bagi pemegang saham lama, penting untuk mempertimbangkan hak HMETD mereka agar tidak mengalami dilusi kepemilikan. Sementara bagi pasar modal, rights issue ini memberikan sinyal positif terkait prospek pertumbuhan sektor telekomunikasi digital di Indonesia.